Rabu, 03 Februari 2010

Desain Ruang Shalat Meningkatkan Kualitas Ibadah

Waktu yang singkat karena kesibukan, membuat kuantitas ibadah sulit untuk ditambahkan. Cara yang paling mungkin adalah dengan meningkatkan kualitasnya. Salah satu contoh ibadah yang berkualitas antara lain ditandai dengan khusyuk atau tidaknya seseorang di dalam shalatnya. Selain tergantung dari diri setiap orang, kakhusyukan bisa dipengaruhi oleh suasana tertentu pada ruang shalat. Namun, tak ada ketentuan khusus bagaimana menciptakan kekhusyukan, karena kebutuhan dan pendapat setiap orang berbeda.
Ada yang menyukai tempat yang sunyi sehingga meletakkan ruang shalatnya jauh dari jalan raya, atau hingar binger televise. Tapi, ada juga yang ingin beribadah di halaman rumah ditemani suasana gemercik air kolam agar selalu ingat dengan ciptaan Tuhan.
Sebuah keluarga menyukai ruang shalat yang berada di tengah ruang lain, tujuannya agar selalu bisa mengajak tamu atau anggota keluarga untuk shalat berjamaah. Sementara keluarga yang baru pulang dari tanah suci memajang ornament-ornamen Islam yang dibeli saat naik haji, “Supaya selalu terbayang khusuknya shalat di Masjid Al-Haram,” begitu tutur mereka.
Apapun bentuk dan tema ruang shalat, semuanya harus tetap mengikuti aturan tempat shalat, yakni memiliki arah hadap ke kiblat, bersih dari kotoran, tidak berlebih-lebihan sehingga mengganggu konsentrasi ibadah, serta tidak menghadap ke pemakaman. Selain ddari itu, semua tergantung dari pemilik ruang, yang penting tujuan utamanya tercapai, yakni bisa beribadah dengan khusyuk.
Shalat yang khusyuk pada dasarnya tidak bisa ditentukan oleh manusia. Sebab, kekhusyukan merupakan anugerah sang Pencipta pada hamba-Nya yang tulus dan ikhlas dalam menjalankan ibadah shalat. Rasa khusyuk dalam beribadah ada pada hati manusia yang selalu merindukan pertemuan dengan sang Pencipta semesta alam. Bukan pada seseorang mengharap suatu imbalan dari-Nya. Bukan karena ada rasa keharusan atau paksaan dari pihak tertentu. Kekhusyukan adalah hadiah bagi seseorang yang benar-benar ingin bersyukur atas segala yang telah didapat dan berkeinginan berdialog dengan-Nya.
Kekhusyukan tak mungkin diciptakan seseorang. Manusia dengan segala keterbatasannya hanya bisa berusaha untuk membersihkan jiwa maupun pikiran dari hal-hal buruk. Manusia juga dapat mengupayakan agar tercipta suasana tertentu yang mendukung kekhusyukan. Rasa keikhlasan, kepasrahan, dan kerendah hati lebih ditentukan oleh tingkat spiritualitas dari tiap individu. Sementara itu, tubuh yang santai dan nyaman, ketenangan, atau konsentrasi pada pikiran adalah beberapa hal yang bisa dibantu melalui bentuk fisik ruang shalat.
Siapapun bisa tergetar hatinya ketika membaca dan meresapi makna Al-qur’an. Untuk mendukung kegiatan membaca ayat suci ini, perlu tingkat pencahayaan ruang shalat yang memadai. Supaya kegiatan ibadah tidak terganggu dengan aktivitas lain, bisa dilakukan dengan cara, misalnya membuat peninggian level lantai atau pembatas ruang dengan berbagai alternative bentuknya. Pada umumnya suasana yang mampu menenangkan panca indera, banyak pilihan. Namun , hal ini tidak menutup kemungkinan diterapkan tema-tema khusus sesuai dengan selera pengguna ruang tersebut.
Derajat pentingnya suatu ruang dapat ditunjukkan oleh beberapa hal, misalnya menempatkan ruang tersebut di lokasi terbaik. Terbaik di sini tidaklah mutlak, melainkan yang danggap paling bagus menurut kebudayaan maupun pendapat tiap orang yang sifatnya lebih subyektif. Setiap rumah tentu memiliki sudut terbaik, contohnya meletakkan ruang shalat di sudut rumah dekat taman belakang. View yang indah yang berasal dari halaman rumah , berusaha dimasukkannya kedalam ruang.
Kaligrafi (Arab) merupkan seni tulisan yang sering dipakai sebagai ornament untuk menggambarkan suasana Islami. Sebagian besar tulisannya dikutip dari ayat-ayat suci Al-qur’an selain kaligrafi bentuk standar yang menampilkan keindahan seni menulis, ada dua macam bentuk lain, yakni geometris dan figuratif. Geometris menonjolkan kekuatan huruf melalui pengulangan, memusat, atau bentuk-bentuk geometris lain yang terkadang diperoleh dari perhitungan matematika. Sementara kaligrafi figuratif, seni tulisan yang dihasilkan melalui membentuk figure abstrak menyerupai manusia (antropomorfik), binatang (zoomorfik), dan bentuk benda lainnya seperti masjid atau perahu. Figur mahluk yang dibuat hanya tersirat seperti ikon saja karena penggambaran mahluk hidup tidak dianjurkan dalam islam. Akhir-akhir ini berkembang pula kaligrafi yang lebih kontemporer, tampilannya ada yang abstrak, bergaya pop, atau sederhana (minimalis).
Ornamen sebisa mungkin tidak terlaludipasang banyak di ruang shalat, karena dikhawatirkan dapat mempengarungi konsentrasi seseorang saat beribadah. Meski ada beberapa pengeualian, yakni ada ruang dengan banyak pernik islami yang justru punya efek baik bagi pemiliknya.
Selain kaligrafi hiasan berupa gambar masjid atau ka’bah juga menjadi favorit sebagian orang. Penempatannya pun beragam, tak hanya berupa pajangan dinding, namun juga pada bagian interior seperti jendela atau benda-benda yang diletakkan di meja. Meski ragamnya cukup banyak, namun pada dasarnya semua memiliki tujuan yang sama, yakni secara simbolik ia menunjukkan fungsi ruangsekaligus menambah suasana religius.
Shalat pada hakikatnya adalah suatu perjalanan spiritual untuk menemui Sang Maha Agung. Hanya kekhusyukan semata yang mampu membuat perjalanan ini mulus tanpa terhalang apapun. Penghalang kekhusyukan ada pada diri manusia, yakni hati dan panca indera .Bagian-bagian dari tubuh inilah yang sangat mudah diganggu, terutama oleh musuh-musuh Tuhan.
Itulah sebabnya mengapa manusia hendaknya bisa mengendalikan setiap indera yang dimilikinya. Disain ruang shalat sedikit banyak bisa membantu dalam usaha pengendalian ini. Cahaya yang memadai tanpa membuat silau, warna-warna kalem, dan detail ruang yang minimal tentu tidak akan membuat mata terganggu. Sementara, bau-bauan tertentu, seperti aroma masakan, sebaiknya dijauhkan. Bahan yang lembut dan nyaman bisa membuat tubuh lebih rileks tanpa merasa was-was. Demikian pula , kondisi udara yang sejuk dan tidak lembab akan membikin kita betah berlama-lama shalat. Suara juga menentukan, kebisingan sebaiknya dihindari. Itulah mengapa banyak orang yang menyukai shalat di tempat yang sempit, terpencil, gelap bahkan dengan memejamkan mata, karena di tempat ini mereka tidak cemas oleh gangguan yang mungkin dating di saat shalat.
Sering terdengar keluhan orang tidak betah berlama-lama dalam beribadah, baik shalat maupun membaca Al-qur’an. Satu dari sekian banyak alasannya adalah karena kondisi udara di dalam ruang shalat yang kurang memadai. Akibatnya, ruang yang umumnya tidak besar ini terasa panas, pengap, tak jarang pula lembab dan berbau. Pengudaraan di ruang shalat ternyata acap kali diabaikan, padahal poin ini juga menentukan tingkat kekhusyukan ibadah seseorang. Setidaknya aliran udara dalam ruang harus dibuat lancar. Jika beruntung mendapatkan dinding yang bersebelahan dengan ruangan luar, hadirkan jendela-jendela dengan bukaan lebar.
Shalat di luar rumah bisa menjadi pilihan. Gazebo di halaman rumah, salah satu contohnya. Mengapa tidak? Selama tempat tersebut bersih, tenang, dan ditempatkan di halaman samping atau belakang yang tidak terlalu terekspos, tidak ada salahnya dijadikan sebagai tempat berkomunikasi dengan pencipta alam semesta ini. Lantai gazebo yang tidak sejajar tanah, tetapi sedikit lebih tinggi, membuat ruang tersebut sangat layak digunakan sebagai ruang shalat. Lagipula, dekat dengan alam kadang-kadang dapat membangkitkan rasa syukur yang dalam pada Tuhan atas anugerah yang telah diberikan. Berzikir dan belajar mengaji pun bisa dilakukan di sini.
Untuk memisahkan area ini dari taman bagian lain, bisa dibuat batas dari benda apapun. Batu atau tanaman pot bisa menjalankan tugas ini. Kehadiran atribut religi yang diletakkan di sana, membuat tamu yang dating tidak akan sembarang memasuki area ini. Dalam ajaran Islam, shalat boleh dikerjakan di mana saja, baik di tempat yang terhormat, maupun di tengah hingar binger pasar. Aturan ini dibuat supaya umat senantiasa beribadah di mana pun tanpa ada alas an yang membuatnya absen. Yang penting tempatnya bersih dari kotoran, dan tak menghadap pemakaman. Bahkan bila terpaksa ada kotoran, yang terutama adalah kotoran tersebut tidak mengenai tubuh kita.
Ibadah shalat dan lainnya pasti memerlukan peralatan-peralatan seperti, ajadah, mukena, peci, sarung, Al-qur’an atau buku-buku agama. Bila tidak diatur penyimpanannya, tentu semua benda-benda ini akan berantakan. Oleh sebab itu, dalam ruangan shalat paling tidak ada satu tempat untuk menyimpan benda tersebut ketika tidak digunakan.
Tempat penyimpanan bisa berupa rak, lemari, peti, atau hanya sekedar meja. Gantungan sebenarnya juga diperlukan, sebab seseorang yang selesai berwudhu biasanya tubuhnya agak basah. Akibatnya sajadah, sarung, atau mukena menjadi lembab ketika dipakai. Untuk menghindarinya dari bau apek dan lembab, benda-benda itu sebaiknya dijemur supaya cepat kering. Maka, benda untuk menjemur atau menggantungnya perlu ada di ruang shalat.
Sebelum shalat seseorang harus membersihkan diri dulu dari kotoran yang mungkin menempel padanya. Namun, berwudhu tak hanya secara fisik membersihkan, tapi juga dalam maknanya. Antara lain bersih pikiran, tangan tidak suka mencuri, menginjak hak orang lain, atau perbuatan yang kotor lainnya. Wudhu juga tidak hanya untuk diperlukan saat shalat, tapi juga ketika akan membaca Al-qur’an atau masuk masjid. Masalah dalam menempatkan ruang wudhu kerap terjadi, misalnya pada urut-urutan kegiatan (hirarki). Semestinya orang yang telah mensucikan dirinya tidak lagi melewati jalan sebelum ia berwudhu. Oleh sebab itu, solusinya adalah penempatan tempat wudhu dan ruang shalat hendaknya dalam satu jalur sirkulasi (satu arah/linier).
Sama seperti ruang lainnya yang berkenaan dengan air, maka tempat wudhu juga dituntut memiliki pemipaan dan waterproofing yang baik, karena air sebaiknya selalu mengalir, dan air kotor bisa langsung dibuang tanpa menimbulkan rembesan.







Diambil dari Tabloid Rumah
Hal 5-60,2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar